Ramadhan selalu
datang seperti tamu agung. Ia mengetuk hati, bukan sekadar hadir di kalender
tahunan. Tahun ini, saya tidak ingin hanya menjalani rutinitas puasa, sahur,
dan berbuka. Saya ingin menjadikan Ramadhan lebih bermakna, lebih sadar, lebih
dalam, dan lebih berdampak nyata pada diri saya.
Ada tiga target utama yang ingin saya capai.
1. Memperbanyak Ibadah Sunah, Sedekah, dan Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Target pertama
saya adalah memperbanyak ibadah sunah, meningkatkan sedekah, dan memperkuat
interaksi dengan Al-Qur’an. Saya ingin Ramadhan kali ini lebih hidup dengan
amal, bukan hanya penuh rencana.
Rasulullah ﷺ dikenal sangat dermawan, dan di bulan Ramadhan beliau menjadi lebih dermawan lagi. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa kedermawanan beliau seperti angin yang berhembus—cepat dan memberi manfaat luas. Hadis ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berbagi.
Saya ingin lebih menjaga shalat sunah, memperbaiki kualitas tarawih, memperpanjang doa, dan tidak menyia-nyiakan waktu mustajab. Saya juga ingin membiasakan diri bersedekah, sekecil apa pun nilainya. Karena Allah berfirman:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir…” (QS. Al-Baqarah: 261)
Sedekah bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kelapangan hati. Tentang melatih diri agar tidak terlalu melekat pada dunia.
Selain itu, saya ingin lebih intens berinteraksi dengan Al-Qur’an, membaca, memahami, merenungkan, dan berusaha mengamalkannya. Allah menegaskan:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185)
Saya ingin menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi teman dialog. Bukan sekadar lantunan, tetapi pedoman.
2.
Belajar Sabar Menghadapi Berbagai
Karakter
Target kedua
adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih baik dalam
menghadapi berbagai karakter di luar diri saya, terutama mereka yang tidak
sevisi.
Perbedaan sering kali menjadi ujian terbesar. Perbedaan cara berpikir, gaya komunikasi, hingga cara menyikapi masalah. Di situlah ego diuji dan hati ditempa.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Puasa melatih saya bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan reaksi. Menahan kata-kata yang bisa melukai. Menahan prasangka yang belum tentu benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang kuat
bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Saya ingin menjadi kuat dengan cara yang lebih tenang—lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan dan lebih lapang dalam menerima kenyataan bahwa tidak semua orang harus sejalan dengan saya.
3.
Badan Lebih Sehat dan Mencapai Berat
Badan Ideal
Target ketiga
adalah menjaga tubuh agar lebih sehat dan berusaha mencapai berat badan ideal.
Ramadhan adalah momentum memperbaiki pola hidup.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…” (HR. Muslim)
Saya ingin lebih bijak saat sahur dan berbuka, tidak berlebihan, serta menjaga keseimbangan asupan. Mengurangi yang berlebihan, memperbanyak yang menyehatkan, dan tetap aktif bergerak. Karena tubuh yang sehat akan mendukung ibadah yang lebih khusyuk dan produktif.
Ramadhan lebih bermakna bagi saya bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi tentang transformasi menyeluruh yaitu ruh, emosi, dan fisik. Semoga ketika Syawal tiba, saya membawa hati yang lebih bersih, sikap yang lebih bijak, dan tubuh yang lebih terjaga.
Challenge Menulis IIDN
#IIDN
#IIDNRamadanChallenge #Day1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar