Rabu, 25 Februari 2026

Ramadhan Kecil di Ujung Pandang

 Kenangan Masa Kecil di periode 70 an

Arie Widowati



Sekitar tahun 1971–1973, saat usia saya baru menginjak delapan tahun dan masih duduk di kelas 2 SD, ayah mendapat tugas dinas sebagai perwira TNI AU di Kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan yang pada masa itu masih bernama Ujung Pandang. Perpindahan tugas itu membuat kami sekeluarga meninggalkan kampung halaman dan menetap selama kurang lebih dua tahun di kota pesisir yang hangat, penuh angin laut, dan riuh dengan berbagai warna budaya.

Awalnya kami tinggal di kompleks mess perwira yang terletak di jalan utama. Suasananya cukup ramai dan terasa formal, khas lingkungan militer. Namun tiga bulan kemudian, kami pindah ke sebuah gang kecil di kawasan pecinan. Perpindahan itu seperti membuka lembaran baru dalam hidup saya sebagai anak kecil. Gangnya sempit, rumah-rumah berdempetan, dan aroma masakan dari dapur tetangga sering bercampur menjadi satu. Di situlah saya mulai mengenal keberagaman secara lebih nyata.

Saya bersekolah di sebuah sekolah swasta Katolik. Mayoritas teman-teman saya bukan Muslim. Namun justru di lingkungan itulah saya belajar tentang makna keyakinan dan keteguhan. Ketika bulan Ramadhan tiba, saya tetap berusaha berpuasa, meskipun tidak ada teman sekelas yang melakukannya. Godaan tentu ada, terutama saat jam istirahat ketika teman-teman membuka bekal dan menikmati jajanan. Tetapi di situlah saya belajar arti firman Allah

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 183)

Sebagai anak kecil, saya mungkin belum sepenuhnya memahami makna takwa. Tetapi saya tahu, puasa adalah perintah Allah. Dan menjalankannya membuat saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan mulia.

Di rumah, kehidupan saya sangat sederhana dan penuh keceriaan. Saya bermain bersama teman-teman sebaya yang merupakan tetangga sekitar. Kami bermain lompat tali dari rangkaian karet gelang yang dirajut panjang, bermain rumah-rumahan dengan peralatan seadanya, bahkan kadang bermain perang-perangan bersama anak-anak laki-laki. Dunia kami adalah dunia imajinasi tanpa batas.

Saat Ramadhan, permainan tetap berjalan, hanya saja terasa sedikit berbeda. Siang hari kami tetap berlarian di gang kecil itu, namun menjelang sore, energi mulai melemah. Rasa haus menjadi teman setia. Saya sering duduk di teras rumah, memandangi langit yang perlahan berubah warna, menunggu azan Maghrib berkumandang.

Suasana berbuka di rumah begitu hangat. Ibu biasanya menyiapkan hidangan sederhana seperti kolak pisang atau es sirup merah yang rasanya begitu istimewa saat diteguk setelah seharian menahan dahaga. Ayah, dengan seragam kebanggaannya, sering memberi nasihat ringan tentang disiplin dan tanggung jawab. Beliau mencontohkan bahwa sebagai seorang prajurit, keteguhan adalah harga mati dan puasa adalah latihan terbaik untuk itu.

Saya juga belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Rasulullah ﷺ bersabda

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Hadis itu sering diulang ibu dengan bahasa sederhana agar saya mengerti. Maka saya pun berusaha menjaga sikap, tidak berbohong, tidak bertengkar, tidak marah berlebihan saat bermain. Meski tentu saja, sebagai anak kecil, saya kadang masih terpancing emosi ketika kalah bermain perang-perangan.

Malam-malam Ramadhan juga menghadirkan kenangan tersendiri. Kami tidak selalu pergi ke masjid, tetapi suara tarawih dari kejauhan terdengar merdu menyusuri gang. Kadang ayah mengajak saya ikut. Saya berjalan kecil di sampingnya, merasa bangga bisa berdiri sejajar dalam saf, meskipun sering mengantuk di rakaat-rakaat terakhir.

Yang paling membekas adalah rasa berbeda namun tidak sendirian. Di sekolah saya minoritas, di lingkungan pecinan saya juga bukan bagian dari mayoritas. Namun Ramadhan mengajarkan bahwa iman tidak bergantung pada jumlah. Ia bertumbuh dari keyakinan di dalam dada.

Kini, puluhan tahun berlalu sejak masa kecil di Ujung Pandang itu. Namun setiap Ramadhan tiba, ingatan saya selalu kembali pada gang kecil di kawasan pecinan, pada karet gelang yang melingkar di pergelangan kaki, pada haus yang tertahan hingga senja, dan pada azan Maghrib yang terdengar seperti pelukan hangat dari langit.

Ramadhan masa kecil bukan tentang kesempurnaan ibadah, melainkan tentang proses belajar mencintai perintah Allah dengan hati yang polos.

 

“Ramadhan yang dijalani dengan hati sederhana sering kali menjadi fondasi iman sepanjang usia.”


“Challenge Menulis IIDN”

#IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day5

 

 


 


Selasa, 24 Februari 2026

Perempuan Istana yang Memilih Cahaya Keikhlasan

Kisah Fatimah binti Abdul Malik


Oleh Arie Widowati




Sejarah Islam menyimpan banyak kisah perempuan hebat. Namun nama *Fatimah binti Abdul Malik* memiliki tempat tersendiri. Ia bukan sekadar putri khalifah, bukan pula hanya istri pemimpin besar. Ia adalah perempuan yang diuji dengan kemewahan lalu memilih melepaskannya demi Allah.

Fatimah lahir di lingkungan istana Bani Umayyah. Ayahnya, Abdul Malik bin Marwan, adalah khalifah yang kuat dan berpengaruh. Sejak kecil, Fatimah hidup dalam limpahan fasilitas. Pakaian terbaik, perhiasan terindah, dan pelayanan istimewa adalah bagian dari kesehariannya. Ia tumbuh sebagai bangsawan sejati, dengan segala kemegahan dunia di sekelilingnya.

Namun Allah menuliskan jalan hidup yang berbeda baginya.


Nasab Mulia dan Jiwa yang Dibentuk Iman

Fatimah menikah dengan sepupunya, *Umar bin Abdul Aziz.* Umar adalah perpaduan dua garis keturunan besar. Dari ayahnya, ia bagian dari keluarga Bani Umayyah. Dari ibunya, ia tersambung kepada keturunan Umar bin Khattab, khalifah kedua yang terkenal dengan keadilan dan kezuhudannya.

Ada kisah terkenal tentang nenek moyang Umar bin Abdul Aziz: seorang gadis penjual susu yang menolak mencampur susu dengan air meski tidak ada yang melihat, karena takut kepada Allah. Kejujuran itu membuat Umar bin Khattab menghargainya dan menikahkannya dengan putranya. Dari garis itulah lahir generasi yang menurunkan Umar bin Abdul Aziz. Seakan-akan Allah telah menanam benih keadilan jauh sebelum ia memimpin.

Ketika Umar diangkat menjadi khalifah, ia menangis. Ia sadar akan firman Allah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58)

 Baginya, kekuasaan adalah amanah, bukan kemegahan.

 

Ujian Besar di Dalam Rumah

Keputusan pertama Umar sebagai khalifah adalah melakukan reformasi total. Ia mengembalikan harta yang diperoleh secara tidak sah ke baitul mal. Ia menghentikan fasilitas berlebihan keluarga istana. Ia memangkas gaya hidup mewah. Dan ini menyentuh langsung kehidupan Fatimah.

Suatu hari, Umar memanggil istrinya. Dengan suara lembut, ia berkata bahwa seluruh perhiasan mahal yang dimiliki Fatimah harus dikembalikan. Jika Fatimah ingin hidup dalam kemewahan, ia tidak akan menahannya. Tetapi jika ia ingin tetap bersamanya, maka kesederhanaan adalah jalannya.

Bayangkan posisi Fatimah: seorang putri khalifah, yang tak pernah kekurangan, kini diminta menyerahkan seluruh perhiasannya. Namun ia memilih Allah.

Tanpa ragu, ia menyerahkan semuanya. Ia tidak sekadar patuh pada suami, tetapi memahami nilai perjuangan itu. Ia sadar bahwa keadilan yang ditegakkan Umar membutuhkan pengorbanan nyata dari keluarga terdekat.

Allah berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Fatimah menginfakkan bukan sisa hartanya, tetapi yang paling ia cintai.

 

Kehidupan Sehari-hari yang Berubah

Setelah itu, kehidupan rumah tangga mereka berubah drastis. Rumah khalifah bukan lagi pusat kemewahan, melainkan simbol tanggung jawab.

Lampu minyak dipisahkan: satu untuk urusan negara, satu untuk urusan pribadi. Jika pembicaraan tentang keluarga berlangsung, Umar mematikan lampu negara dan menyalakan lampu pribadi.

Makanan sederhana menjadi kebiasaan. Roti dan minyak zaitun sering menjadi menu utama. Pakaian mereka biasa saja.

Fatimah tidak mengeluh. Ia tidak membandingkan masa kini dengan masa lalu. Ia justru menjadi penguat bagi suaminya. Ketika Umar kelelahan memikirkan rakyatnya, Fatimah menenangkan. Ketika Umar menangis di malam hari karena takut ada rakyat yang kelaparan, Fatimah menyertainya dalam doa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fatimah memahami bahwa ia pun pemimpin dalam rumah tangganya.

Rumah Khalifah yang Terbuka untuk Rakyat

Saat Umar memulai reformasi, bukan hanya sistem pemerintahan yang berubah—tetapi juga pola hubungan keluarganya dengan rakyat. Ia menghapus sekat berlebihan antara istana dan masyarakat. Rumah khalifah menjadi lebih sederhana dan lebih terbuka. Rakyat bisa menyampaikan keluhan tanpa prosedur berbelit. Umar bahkan kerap menyamar atau berjalan tanpa pengawalan besar untuk mengetahui kondisi masyarakat secara langsung. Fatimah menyaksikan semua itu.

Sering kali, waktu keluarga harus berbagi dengan urusan rakyat. Umar lebih memilih menyelesaikan keluhan orang miskin daripada menikmati waktu santai. Jika ada laporan tentang kelaparan di suatu wilayah, wajahnya berubah pucat. Ia takut menjadi pemimpin yang lalai.

Pada malam hari, ia kerap berkata, “Bagaimana jika ada rakyatku yang kelaparan sementara aku tidak mengetahuinya?” Fatimah tidak merasa tersaingi oleh rakyat. Ia memahami bahwa kepemimpinan suaminya adalah amanah besar. Ia justru mendukung Umar untuk lebih mengutamakan kepentingan umat.

Dalam banyak kesempatan, rumah mereka menjadi tempat diskusi tentang zakat, keadilan pajak, dan pembebasan orang-orang yang tertindas. Anak-anak mereka tumbuh dengan menyaksikan ayahnya memprioritaskan rakyat dibanding kenyamanan pribadi.

Allah berfirman:

“Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini seolah hidup dalam keluarga mereka.

 

Kesederhanaan yang Disaksikan Rakyat

Rakyat terkejut melihat perubahan gaya hidup keluarga khalifah. Tidak ada pesta megah. Tidak ada kemewahan berlebihan. Bahkan perhiasan Fatimah telah dikembalikan ke baitul mal. Sikap ini memberi pesan kuat: bahwa keadilan dimulai dari rumah pemimpin.

Ketika rakyat mengetahui bahwa keluarga khalifah hidup sederhana, kepercayaan tumbuh. Mereka melihat pemimpin yang tidak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya keluarga.

Dikisahkan bahwa kesejahteraan meningkat hingga sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat. Kebijakan distribusi harta yang adil, penghapusan pajak zalim, dan perhatian kepada kaum lemah membuahkan hasil nyata.

Namun di balik kebijakan besar itu, ada pengorbanan sunyi dari Fatimah. Ia tidak menuntut fasilitas sebagai “istri khalifah”. Ia tidak meminta hak istimewa. Ia rela hidup seperti rakyat kebanyakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” (HR. Abu Nu’aim)

Umar menerapkan hadis ini dalam kepemimpinannya. Dan Fatimah mendukungnya sepenuh hati.

 

Pendidikan Anak di Tengah Amanah Besar

Anak-anak mereka tumbuh dalam suasana kepedulian sosial. Mereka melihat ayahnya menangis karena takut akan hisab. Mereka melihat ibunya rela meninggalkan dunia demi akhirat.

Umar pernah berkata bahwa jika anak-anaknya shalih, Allah akan menjaga mereka. Ia tidak ingin mewariskan harta yang bisa menjerumuskan mereka.

Fatimah pun menanamkan nilai empati kepada anak-anaknya. Mereka diajarkan bahwa menjadi bagian dari keluarga khalifah bukan berarti lebih tinggi dari rakyat. Justru tanggung jawab mereka lebih besar.

 

Setelah Kepergian Sang Khalifah

Ketika Umar wafat, kesedihan menyelimuti rakyat. Mereka kehilangan pemimpin adil. Namun Fatimah tetap teguh. Ia tidak kembali pada kemewahan lama. Perhiasannya yang dahulu diserahkan tetap tidak ia ambil kembali. Ia telah memilih jalannya.

Allah berfirman:

“Adapun kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)

Fatimah membuktikan keyakinannya pada ayat ini dengan tindakan, bukan sekadar kata.

 

Warisan yang Abadi

Kisah Fatimah binti Abdul Malik bukan hanya tentang kesetiaan kepada suami, tetapi tentang komitmen terhadap nilai keadilan sosial. Ia mendampingi suami yang memprioritaskan rakyat di atas kenyamanan keluarga. Ia menerima bahwa waktu, tenaga, bahkan perhatian suaminya banyak tercurah untuk umat. Namun ia tidak merasa kehilangan. Ia justru menjadi bagian dari perjuangan itu.

Dari istana menuju rumah sederhana. Dari kemewahan menuju ketenangan iman. Dari kehidupan bangsawan menuju teladan sepanjang zaman.

 

"Ketika keluarga pemimpin memilih hidup sederhana demi keadilan rakyatnya, di situlah lahir kepercayaan yang menguatkan sebuah peradaban."

 

#TeladanMuslimah #SejarahIslam #KepemimpinanAdil #PerempuanBeriman

 

 


Menjaga Puasa di Tengah Ujian

 Arie Widowati


Puasa Ramadhan selalu datang membawa rindu. Namun, di balik rindu itu, ada tantangan yang tak pernah benar-benar ringan. Tahun ini, saya menyadari bahwa tantangan terberat bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menahan diri—pikiran, emosi, dan reaksi.

Lapar mungkin bisa ditahan dengan sahur yang cukup. Haus bisa diatasi dengan manajemen cairan yang baik. Tetapi bagaimana dengan ego? Dengan amarah yang tiba-tiba muncul? Dengan rasa lelah yang membuat emosi lebih sensitif?

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Artinya, puasa bukan hanya latihan fisik, tetapi pembentukan karakter. Tantangan terbesar justru ada pada proses menuju takwa itu sendiri.


Tantangan Emosi dan Perbedaan

Saat tubuh lelah, biasanya toleransi ikut menipis. Perbedaan kecil bisa terasa besar. Kata-kata sederhana bisa terdengar menyakitkan. Di sinilah ujian sebenarnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sederhana, tetapi dalam praktiknya luar biasa berat. Mengatakan “saya sedang berpuasa” bukan hanya ucapan, melainkan pengingat diri agar tidak terpancing. Menahan diri saat benar-benar ingin membalas, itulah latihan mental yang sesungguhnya.

Tantangan terbesar saya tahun ini adalah menjaga stabilitas hati di tengah berbagai karakter dan dinamika kehidupan. Tidak semua orang berpikir sama. Tidak semua situasi berjalan sesuai harapan. Namun puasa mengajarkan saya untuk tetap tenang.

 

Tantangan Konsistensi

Selain emosi, tantangan lainnya adalah konsistensi. Di awal Ramadhan, semangat terasa membuncah. Tilawah lancar, tarawih penuh energi, doa mengalir deras. Namun memasuki pertengahan bulan, rasa lelah mulai menyapa.

Di sinilah komitmen diuji. Apakah ibadah hanya karena suasana, atau benar-benar karena kesadaran?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas sesaat. Tantangan terbesar bukan memulai, tetapi menjaga.

 

Tantangan Menjaga Niat

Ada pula tantangan yang lebih halus: menjaga niat tetap lurus. Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Maka menjaga keikhlasan menjadi ujian tersendiri.

Puasa mengajarkan saya untuk tidak mencari pengakuan, tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, dan tidak terjebak pada pencitraan. Karena yang Allah nilai bukan seberapa lelah kita terlihat, tetapi seberapa tulus kita bertahan.

 

“Puasa bukan tentang menahan lapar paling lama, tetapi tentang menahan diri paling dalam.” 

Ramadhan tahun ini mungkin penuh tantangan. Namun justru di situlah letak keindahannya. Ujian membuat kita sadar bahwa kita masih harus banyak belajar—belajar sabar, belajar konsisten, belajar ikhlas.

Semoga setiap tantangan yang hadir bukan membuat kita rapuh, tetapi justru menguatkan. Karena di balik lapar, ada latihan. Di balik haus, ada harapan. Dan di balik setiap ujian, ada peluang menjadi lebih bertakwa.

"Challenge Menulis IIDN"

#IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day4


Senin, 23 Februari 2026

Bugar Sepanjang Puasa: Ibadah Lancar, Energi Tetap On

 Oleh Arie Widowati

 




Ramadhan sering kali identik dengan rasa kantuk di siang hari, tubuh yang terasa lebih lambat, atau kepala yang sedikit berat menjelang berbuka. Padahal, sejatinya puasa bukan alasan untuk kehilangan produktivitas. Justru, bulan suci ini adalah momen terbaik untuk menata ulang gaya hidup agar lebih sehat, lebih teratur, dan lebih penuh kesadaran.

 Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa. Dan untuk mencapai takwa yang optimal, kita membutuhkan tubuh yang kuat dan pikiran yang jernih. Ibadah yang khusyuk, tilawah yang konsisten, hingga aktivitas harian yang tetap berjalan baik—semuanya membutuhkan energi. Maka, menjaga kebugaran saat puasa bukan sekadar urusan fisik, tetapi juga bagian dari ikhtiar spiritual.

 

1.     Sahur Berkualitas, Energi Tahan Lama

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sahur bukan formalitas. Ia adalah “bahan bakar” utama kita sepanjang hari. Pilihlah karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang rebus, oatmeal, atau roti gandum agar energi dilepas perlahan dan tidak cepat habis. Tambahkan protein (telur, ikan, ayam, tahu, tempe) untuk menjaga rasa kenyang lebih lama. Jangan lupakan serat dari sayur dan buah agar pencernaan tetap lancar.

Perbanyak minum air putih secara bertahap, bukan sekaligus. Hindari terlalu banyak makanan manis dan gorengan saat sahur karena bisa memicu rasa lapar lebih cepat serta membuat tubuh mudah lemas.

 

2.     Atur Pola Tidur dengan Bijak

Ramadhan sering membuat jam tidur berubah. Tarawih, tadarus, lalu bangun sahur—semuanya membutuhkan manajemen waktu yang baik. Usahakan tidur lebih awal agar tetap mendapatkan kualitas istirahat yang cukup. Jika memungkinkan, manfaatkan waktu istirahat siang 15–20 menit sebagai power nap untuk memulihkan energi.

Tubuh yang cukup tidur akan lebih stabil emosinya, lebih fokus, dan tidak mudah tersinggung—hal yang sangat penting saat sedang menahan diri dalam puasa.

 

3.     Tetap Aktif Bergerak

Puasa bukan berarti berhenti berolahraga. Aktivitas ringan seperti berjalan santai menjelang berbuka, yoga ringan, atau stretching setelah tarawih dapat membantu menjaga metabolisme tetap aktif.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…” (HR. Muslim)

Kekuatan di sini mencakup kekuatan iman, mental, dan fisik. Dengan tubuh yang sehat, kita lebih mudah bangun malam, lebih ringan melangkah ke masjid, dan lebih fokus dalam bekerja.

 

4.     Berbuka Secukupnya, Bukan Berlebihan

Saat adzan maghrib berkumandang, godaan terbesar adalah “balas dendam” makanan. Padahal Rasulullah ﷺ mencontohkan berbuka dengan yang sederhana: kurma dan air.

Mulailah dengan yang manis alami seperti kurma, minum air putih, lalu beri jeda sebelum makan besar. Hindari makan berlebihan karena perut yang terlalu penuh justru membuat tubuh terasa berat saat tarawih.

 

5.     Jaga Kesehatan Mental dan Hati

Energi kita tidak hanya berasal dari makanan, tetapi juga dari pikiran dan hati yang tenang. Kurangi perdebatan, hindari konflik yang tidak perlu, dan isi waktu dengan tilawah, dzikir, atau membaca hal-hal yang menguatkan iman.

Ramadhan adalah bulan latihan pengendalian diri. Ketika hati tenang, tubuh pun terasa lebih ringan. Ketika pikiran positif, energi pun terasa cukup.

Pada akhirnya, kebugaran saat puasa adalah kombinasi antara pola makan yang tepat, istirahat yang cukup, aktivitas yang terjaga, dan hati yang bersih.

 

“Puasa yang berkualitas lahir dari hati yang tertata dan tubuh yang terjaga.”

Semoga Ramadhan tahun ini menjadikan kita bukan hanya lebih sabar dan lebih taat, tetapi juga lebih sehat dan lebih kuat. Karena ibadah terbaik lahir dari jiwa yang khusyuk dan raga yang bugar.

"Challenge Menulis IIDN"

#IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day2


 

Minggu, 22 Februari 2026

Sahur Cerdas Energi Tuntas

 Oleh: Arie Widowati



Sahur sering kali dianggap sekadar “pengganjal” sebelum imsak. Padahal, sahur adalah fondasi energi kita sepanjang hari. Jika fondasinya kuat, insyaAllah puasa terasa lebih ringan, fokus lebih terjaga, dan ibadah lebih maksimal. Maka tahun ini, mari kita ubah cara pandang: sahur bukan asal kenyang, tapi harus cerdas dan menyehatkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata barakah di sini bukan hanya soal pahala, tetapi juga kebaikan yang bertambah dan manfaat yang meluas. Sahur yang baik bukan sekadar menunda lapar, tetapi menguatkan tubuh agar mampu beribadah dengan optimal.

Allah juga berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menjadi prinsip utama sahur sehat: cukup, seimbang, dan tidak berlebihan.

 

🍽️ Ide Menu Sahur Sehat dan Praktis

Berikut beberapa ide sahur yang bisa dicoba:

1.     Karbohidrat kompleks

Pilih nasi merah, oatmeal, roti gandum, atau kentang rebus. Karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat sehingga energi lebih stabil dan tidak cepat lapar.

 

2.     Protein berkualitas

Telur, ayam tanpa kulit, tahu, tempe, atau ikan sangat baik untuk menjaga rasa kenyang lebih lama. Protein membantu mempertahankan massa otot dan menjaga stamina selama puasa.

 

3.     Serat dan sayur

Tambahkan tumis sayur, lalapan, atau sup bening. Serat membantu pencernaan lebih lancar dan membuat perut terasa nyaman.

 

4.     Buah dan air putih yang cukup

Pilih buah yang mengandung banyak air seperti semangka, melon, atau pepaya. Jangan lupa minum air putih minimal 2–3 gelas saat sahur untuk mencegah dehidrasi.

 

5.     Kurangi gula berlebihan

Minuman manis memang menggoda, tetapi gula berlebih bisa membuat energi cepat naik lalu turun drastis. Lebih baik pilih madu secukupnya atau kurma dalam jumlah wajar.

 

Rasulullah ﷺ sering berbuka dan bersahur dengan kurma. Selain sunnah, kurma juga mengandung gula alami dan serat yang baik untuk tubuh.


Jangan Lewatkan Waktu Sahur

Selain menu, waktu juga penting. Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur adalah sunnah yang membawa keberkahan. Sahur mendekati waktu imsak membantu tubuh memiliki cadangan energi lebih optimal.

Namun yang tak kalah penting adalah niat. Sahur bukan sekadar makan dini hari, tetapi bagian dari ibadah. Bahkan bangun untuk sahur saja sudah bernilai pahala jika diniatkan karena Allah.

 

Sahur dan Spirit Pengendalian Diri

Sahur sehat juga bagian dari latihan pengendalian diri. Kita belajar memilih yang baik, bukan sekadar yang enak. Kita belajar cukup, bukan berlebihan. Puasa bukan ajang “balas dendam” makan, tetapi momentum menata pola hidup.

Sahur yang cerdas membuat tubuh ringan, pikiran jernih, dan hati lebih siap menyambut hari dengan sabar. Dengan tubuh yang sehat, shalat lebih khusyuk, tilawah lebih fokus, dan aktivitas tetap produktif.

 

“Sahur bukan tentang seberapa banyak yang kita makan, tetapi seberapa bijak kita memilih.”

Mari jadikan sahur tahun ini lebih terencana. Lebih sehat. Lebih berkah. Karena Ramadhan bukan hanya detoks hati, tetapi juga detoks pola hidup.

Semoga setiap suapan sahur menjadi energi ibadah, setiap tegukan air menjadi penguat kesabaran, dan setiap niat yang kita luruskan menjadi jalan keberkahan.

“Challenge Menulis IIDN”

 #IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day2

 

Jumat, 20 Februari 2026

Ramadhan Lebih Bermakna

 

Ramadhan selalu datang seperti tamu agung. Ia mengetuk hati, bukan sekadar hadir di kalender tahunan. Tahun ini, saya tidak ingin hanya menjalani rutinitas puasa, sahur, dan berbuka. Saya ingin menjadikan Ramadhan lebih bermakna, lebih sadar, lebih dalam, dan lebih berdampak nyata pada diri saya.

Ada tiga target utama yang ingin saya capai.

1.     Memperbanyak Ibadah Sunah, Sedekah, dan Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Target pertama saya adalah memperbanyak ibadah sunah, meningkatkan sedekah, dan memperkuat interaksi dengan Al-Qur’an. Saya ingin Ramadhan kali ini lebih hidup dengan amal, bukan hanya penuh rencana.

Rasulullah ﷺ dikenal sangat dermawan, dan di bulan Ramadhan beliau menjadi lebih dermawan lagi. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa kedermawanan beliau seperti angin yang berhembus—cepat dan memberi manfaat luas. Hadis ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berbagi.

Saya ingin lebih menjaga shalat sunah, memperbaiki kualitas tarawih, memperpanjang doa, dan tidak menyia-nyiakan waktu mustajab. Saya juga ingin membiasakan diri bersedekah, sekecil apa pun nilainya. Karena Allah berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir…” (QS. Al-Baqarah: 261)

Sedekah bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kelapangan hati. Tentang melatih diri agar tidak terlalu melekat pada dunia.

Selain itu, saya ingin lebih intens berinteraksi dengan Al-Qur’an, membaca, memahami, merenungkan, dan berusaha mengamalkannya. Allah menegaskan:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Saya ingin menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi teman dialog. Bukan sekadar lantunan, tetapi pedoman.

 

2.     Belajar Sabar Menghadapi Berbagai Karakter

Target kedua adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih baik dalam menghadapi berbagai karakter di luar diri saya, terutama mereka yang tidak sevisi.

Perbedaan sering kali menjadi ujian terbesar. Perbedaan cara berpikir, gaya komunikasi, hingga cara menyikapi masalah. Di situlah ego diuji dan hati ditempa.

Allah berfirman:

 “Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Puasa melatih saya bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan reaksi. Menahan kata-kata yang bisa melukai. Menahan prasangka yang belum tentu benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya ingin menjadi kuat dengan cara yang lebih tenang—lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan dan lebih lapang dalam menerima kenyataan bahwa tidak semua orang harus sejalan dengan saya.

 

3.     Badan Lebih Sehat dan Mencapai Berat Badan Ideal

Target ketiga adalah menjaga tubuh agar lebih sehat dan berusaha mencapai berat badan ideal. Ramadhan adalah momentum memperbaiki pola hidup.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…” (HR. Muslim)

 Saya ingin lebih bijak saat sahur dan berbuka, tidak berlebihan, serta menjaga keseimbangan asupan. Mengurangi yang berlebihan, memperbanyak yang menyehatkan, dan tetap aktif bergerak. Karena tubuh yang sehat akan mendukung ibadah yang lebih khusyuk dan produktif.

Ramadhan lebih bermakna bagi saya bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi tentang transformasi menyeluruh yaitu ruh, emosi, dan fisik. Semoga ketika Syawal tiba, saya membawa hati yang lebih bersih, sikap yang lebih bijak, dan tubuh yang lebih terjaga.

"Challenge Menulis IIDN"

#IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day1


 



Rabu, 14 Juni 2017

Sukses Dengan Bertindak Cepat

Sukses Dengan Bertindak Cepat Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

“Cara, peraturan, dan kemampuan sering dapat mengalahkan musuh. Sebenarnya yang selalu membuat mereka menang karena mereka lebih dulu mengetahui informasi mengenai situasi.” ~ Sun Zi’s Art of War

“Lebih cepat lebih baik”. Kita tentu sangat mengenal jargon tersebut. Ya, jargon yang diusung oleh Jusuf Kalla dalam pilpres Juli 2009 mendatang bisa kita jadikan pegangan dalam melakukan tindakan atau usaha-usaha kita. Saya tidak sedang berkampanye apalagi menyuruh Anda untuk mendukungnya. Sama sekali tidak! Terus terang saya sudah punya pilihan sendiri, hehe.

Sampai di mana tadi? O ya, lebih cepat lebih baik. Bertindak cepat dalam usaha di bidang apapun akan memberikan kita kemenangan. Anehnya, kita sering menutup jalur-jalur sukses kita sendiri dengan bertindak sangat lambat. Lambat berpikir,lambat belajar, lambat mencari, lambat merebut peluang dan sebagainya. Sehingga kita sendiri hanya melongo karena didahului oleh orang lain. Kata-kata “andai saja” pun kerap terucapkan disamping mencari-cari alasan pembenaran untuk tindakannya yang lambat itu sebagai pelipur lara.

Lagi, ada kisah dari negeri tirai bambu yang bisa kita adopsi untuk kita terapkan dalam menjalani usaha-usaha kita di bidang apapun. Konon pada j
... baca selengkapnya di Sukses Dengan Bertindak Cepat Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 08 Juni 2017

Yang Bukan Segalanya

Yang Bukan Segalanya Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Bagaimana rasanya membenci sesuatu yang dicintai hampir semua orang? Dipuja mayoritas manusia? Bahkan sebagian orang dibutakan olehnya, rela mengorbankan segalanya. Sendiri melawan arus bukanlah hal yang mudah. Kau bisa di anggap gila atau bodoh. Tapi apa mau dikata, hati telah memilih serta menyadari apa hakikat hidup yang sesungguhnya. Bukankah setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing? Ini hak asasi, ini otonomi diri. Terkadang bukan hanya mata saja yang dibutuhkan untuk melihat, namun hati juga diperlukan sebagai kontrol serta penyeimbang. Lucu memang berada di tengah parodi manusia-manusia urban yang hidup bak sapi perah bagi ambisi dan gengsi mereka sendiri.

Hangatnya sapuan sinar matahari membalutnya sepanjang jalanan kota yang masih relatif sepi. Maklum ini hari Sabtu, tidak banyak orang yang dikejar jadwal ke kantor ataupun ke sekolah. Seorang gadis berambut lurus tengah memacu motornya melintasi dataran abu-abu dengan kecepatan sedang. Sebenarnya dia butuh kecepatan ekstra agar segera tiba di tempat tujuannya, Warung Bubur Abah Hasan. Perutnya sudah gemerucuk karena dari kemarin malam belum sempat diisi. Namun, ia sangat menikmati udara pagi kali ini. Setibanya disana dan memesan menu favoritnya, ia duduk menghadap jendela. Sengaja karena pemandangan disini langsung menghadap ke jajaran pohon di ruang hijau seberang jalan yang menyejukkan
... baca selengkapnya di Yang Bukan Segalanya Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Selasa, 06 Juni 2017

Melihat Keluarbiasaan

Melihat Keluarbiasaan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Dalam suatu kesempatan di kelas pelatihan untuk para trainer, kawan muda Prasetya M. Brata yang belum lama memposisikan diri di masyarakat sebagai mind provocateur, menggelitik pikiran saya dengan mengatakan, “Kalau Bang Harefa itu disebut-sebut sebagai guru biasa untuk orang-orang luar biasa, maka saya ini guru luar biasa untuk orang-orang biasa”.

Saya hanya tertawa saja mendengar gurauan provokatif itu. Namun ketika saya memilih menyebut diri (antara lain) sebagai “guru biasa untuk orang-orang luar biasa”, sejak beberapa tahun silam, saya tidak sedang bergurau. Frasa itu saya pilih dengan hati-hati dan penuh pemikiran yang mendalam. Frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa” mencerminkan pandangan pribadi saya tentang apa yang diperlukan untuk menjadi seorang trainer andalan (superb trainer). Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer andalan bukanlah atribut akademis atau gelar kesarjanaan yang panjang berderet-deret. Juga bukan sertifikasi yang berlapis-lapis dari berbagai lembaga tingkat nasional dan internasional. Kualifikasi yang terpenting untuk menjadi trainer andalan bukan soal berapa berat dan tingg
... baca selengkapnya di Melihat Keluarbiasaan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1