Arie Widowati
Puasa Ramadhan
selalu datang membawa rindu. Namun, di balik rindu itu, ada tantangan yang tak
pernah benar-benar ringan. Tahun ini, saya menyadari bahwa tantangan terberat
bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menahan diri—pikiran, emosi,
dan reaksi.
Lapar mungkin bisa ditahan dengan sahur yang cukup. Haus bisa diatasi dengan manajemen cairan yang baik. Tetapi bagaimana dengan ego? Dengan amarah yang tiba-tiba muncul? Dengan rasa lelah yang membuat emosi lebih sensitif?
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Artinya, puasa bukan hanya latihan fisik, tetapi pembentukan karakter. Tantangan terbesar justru ada pada proses menuju takwa itu sendiri.
Tantangan
Emosi dan Perbedaan
Saat tubuh lelah,
biasanya toleransi ikut menipis. Perbedaan kecil bisa terasa besar. Kata-kata
sederhana bisa terdengar menyakitkan. Di sinilah ujian sebenarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah
seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan
jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar,
maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Hadis ini sederhana, tetapi dalam praktiknya luar biasa berat. Mengatakan “saya sedang berpuasa” bukan hanya ucapan, melainkan pengingat diri agar tidak terpancing. Menahan diri saat benar-benar ingin membalas, itulah latihan mental yang sesungguhnya.
Tantangan terbesar saya tahun ini adalah menjaga stabilitas hati di tengah berbagai karakter dan dinamika kehidupan. Tidak semua orang berpikir sama. Tidak semua situasi berjalan sesuai harapan. Namun puasa mengajarkan saya untuk tetap tenang.
Tantangan
Konsistensi
Selain emosi,
tantangan lainnya adalah konsistensi. Di awal Ramadhan, semangat terasa
membuncah. Tilawah lancar, tarawih penuh energi, doa mengalir deras. Namun
memasuki pertengahan bulan, rasa lelah mulai menyapa.
Di sinilah komitmen diuji. Apakah ibadah hanya karena suasana, atau benar-benar karena kesadaran?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang
paling dicintai Allah adalah yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas sesaat. Tantangan terbesar bukan memulai, tetapi menjaga.
Tantangan
Menjaga Niat
Ada pula tantangan
yang lebih halus: menjaga niat tetap lurus. Puasa adalah ibadah yang sangat
personal. Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Maka menjaga keikhlasan menjadi
ujian tersendiri.
Puasa mengajarkan saya untuk tidak mencari pengakuan, tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, dan tidak terjebak pada pencitraan. Karena yang Allah nilai bukan seberapa lelah kita terlihat, tetapi seberapa tulus kita bertahan.
“Puasa bukan tentang menahan lapar paling lama, tetapi tentang menahan diri paling dalam.”
Ramadhan tahun ini
mungkin penuh tantangan. Namun justru di situlah letak keindahannya. Ujian
membuat kita sadar bahwa kita masih harus banyak belajar—belajar sabar, belajar
konsisten, belajar ikhlas.
Semoga setiap tantangan yang hadir bukan membuat kita rapuh, tetapi justru menguatkan. Karena di balik lapar, ada latihan. Di balik haus, ada harapan. Dan di balik setiap ujian, ada peluang menjadi lebih bertakwa.
"Challenge Menulis IIDN"
#IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar