Kenangan Masa Kecil di periode 70 an
Arie Widowati
Sekitar tahun
1971–1973, saat usia saya baru menginjak delapan tahun dan masih duduk di kelas
2 SD, ayah mendapat tugas dinas sebagai perwira TNI AU di Kota Makassar, provinsi Sulawesi Selatan yang
pada masa itu masih bernama Ujung Pandang. Perpindahan tugas itu membuat kami
sekeluarga meninggalkan kampung halaman dan menetap selama kurang lebih dua
tahun di kota pesisir yang hangat, penuh angin laut, dan riuh dengan berbagai
warna budaya.
Awalnya kami tinggal di kompleks mess perwira yang terletak di jalan utama. Suasananya cukup ramai dan terasa formal, khas lingkungan militer. Namun tiga bulan kemudian, kami pindah ke sebuah gang kecil di kawasan pecinan. Perpindahan itu seperti membuka lembaran baru dalam hidup saya sebagai anak kecil. Gangnya sempit, rumah-rumah berdempetan, dan aroma masakan dari dapur tetangga sering bercampur menjadi satu. Di situlah saya mulai mengenal keberagaman secara lebih nyata.
Saya bersekolah di sebuah sekolah swasta Katolik. Mayoritas teman-teman saya bukan Muslim. Namun justru di lingkungan itulah saya belajar tentang makna keyakinan dan keteguhan. Ketika bulan Ramadhan tiba, saya tetap berusaha berpuasa, meskipun tidak ada teman sekelas yang melakukannya. Godaan tentu ada, terutama saat jam istirahat ketika teman-teman membuka bekal dan menikmati jajanan. Tetapi di situlah saya belajar arti firman Allah
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 183)
Sebagai anak kecil, saya mungkin belum sepenuhnya memahami makna takwa. Tetapi saya tahu, puasa adalah perintah Allah. Dan menjalankannya membuat saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan mulia.
Di rumah, kehidupan saya sangat sederhana dan penuh keceriaan. Saya bermain bersama teman-teman sebaya yang merupakan tetangga sekitar. Kami bermain lompat tali dari rangkaian karet gelang yang dirajut panjang, bermain rumah-rumahan dengan peralatan seadanya, bahkan kadang bermain perang-perangan bersama anak-anak laki-laki. Dunia kami adalah dunia imajinasi tanpa batas.
Saat Ramadhan, permainan tetap berjalan, hanya saja terasa sedikit berbeda. Siang hari kami tetap berlarian di gang kecil itu, namun menjelang sore, energi mulai melemah. Rasa haus menjadi teman setia. Saya sering duduk di teras rumah, memandangi langit yang perlahan berubah warna, menunggu azan Maghrib berkumandang.
Suasana berbuka di rumah begitu hangat. Ibu biasanya menyiapkan hidangan sederhana seperti kolak pisang atau es sirup merah yang rasanya begitu istimewa saat diteguk setelah seharian menahan dahaga. Ayah, dengan seragam kebanggaannya, sering memberi nasihat ringan tentang disiplin dan tanggung jawab. Beliau mencontohkan bahwa sebagai seorang prajurit, keteguhan adalah harga mati dan puasa adalah latihan terbaik untuk itu.
Saya juga belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Rasulullah ﷺ bersabda
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari)
Hadis itu sering diulang ibu dengan bahasa sederhana agar saya mengerti. Maka saya pun berusaha menjaga sikap, tidak berbohong, tidak bertengkar, tidak marah berlebihan saat bermain. Meski tentu saja, sebagai anak kecil, saya kadang masih terpancing emosi ketika kalah bermain perang-perangan.
Malam-malam Ramadhan juga menghadirkan kenangan tersendiri. Kami tidak selalu pergi ke masjid, tetapi suara tarawih dari kejauhan terdengar merdu menyusuri gang. Kadang ayah mengajak saya ikut. Saya berjalan kecil di sampingnya, merasa bangga bisa berdiri sejajar dalam saf, meskipun sering mengantuk di rakaat-rakaat terakhir.
Yang paling membekas adalah rasa berbeda namun tidak sendirian. Di sekolah saya minoritas, di lingkungan pecinan saya juga bukan bagian dari mayoritas. Namun Ramadhan mengajarkan bahwa iman tidak bergantung pada jumlah. Ia bertumbuh dari keyakinan di dalam dada.
Kini, puluhan tahun berlalu sejak masa kecil di Ujung Pandang itu. Namun setiap Ramadhan tiba, ingatan saya selalu kembali pada gang kecil di kawasan pecinan, pada karet gelang yang melingkar di pergelangan kaki, pada haus yang tertahan hingga senja, dan pada azan Maghrib yang terdengar seperti pelukan hangat dari langit.
Ramadhan masa kecil bukan tentang kesempurnaan ibadah, melainkan tentang proses belajar mencintai perintah Allah dengan hati yang polos.
“Ramadhan yang
dijalani dengan hati sederhana sering kali menjadi fondasi iman sepanjang
usia.”
“Challenge Menulis IIDN”
#IIDN #IIDNRamadanChallenge #Day5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar