Arie Widowati
Setiap keluarga
punya cerita tentang meja berbuka. Ada yang sederhana, ada yang meriah. Namun
yang paling membekas bukan hanya rasanya, melainkan kebersamaannya. Tahun ini,
menu favorit keluarga kami terasa istimewa karena memadukan sunnah, kesegaran,
kehangatan, dan sentuhan tradisi yang menenangkan hati.
Kurma sebagai Takjil Utama
Sebelum menyentuh
hidangan lain, kami selalu memulai dengan kurma. Inilah takjil utama yang tak
pernah absen. Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ yang berbuka dengan kurma sebelum
menunaikan shalat Maghrib.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah
seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma, karena ia
mengandung berkah. Jika tidak ada, maka dengan air, karena ia suci.” (HR. Abu Dawud
dan Tirmidzi)
Kurma bukan sekadar manis alami, tetapi juga cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Gula alaminya membantu tubuh beradaptasi kembali tanpa membuat perut kaget. Di sela mengunyah kurma, doa-doa kami panjatkan, memohon keberkahan atas rezeki yang Allah berikan.
Timun
Suri yang Menyegarkan
Setelah kurma,
kami menikmati timun suri yang segar. Daging buahnya yang lembut dipadukan
dengan sedikit sirup dan perasan jeruk nipis menghadirkan rasa ringan yang
menyegarkan tenggorokan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Manusia akan
senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Takjil yang ringan membantu tubuh bertransisi sebelum menyantap makanan utama. Timun suri kaya air, cocok untuk menghidrasi tubuh secara perlahan.
Soto
Ayam Madura dan Lontong yang Menghangatkan
Setelah shalat
Maghrib, meja kembali ramai dengan semangkuk Soto Ayam Madura dan lontong. Kuah
kuning bening dengan aroma kunyit, jahe, dan serai menguar lembut. Suwiran ayam
yang empuk berpadu dengan lontong yang kenyal, ditambah taburan bawang goreng dan
seledri—hangatnya terasa hingga ke hati.
Soto ini bukan
sekadar hidangan, tetapi pengikat memori keluarga. Rempah-rempahnya bukan hanya
memperkaya rasa, tetapi juga membantu tubuh kembali bertenaga setelah berpuasa.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang
yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu
dan bersyukurlah kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah 172)
Ayat ini mengingatkan bahwa berbuka adalah bentuk syukur. Bukan sekadar menikmati rasa, tetapi menyadari bahwa setiap suapan adalah karunia.
Desert
Sehat Alpukat, Edamame, dan Labu Kuning
Sebagai penutup,
kami memilih sajian yang sederhana namun menyehatkan. Alpukat dengan sedikit
madu, edamame rebus yang gurih alami, dan labu kuning kukus yang manis lembut
menjadi favorit keluarga.
Alpukat kaya lemak sehat, edamame tinggi protein, dan labu kuning mengandung serat serta vitamin yang baik bagi pencernaan. Menu ini membuat perut tetap nyaman hingga malam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah anak
Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam
beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya…” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menjadi pengingat agar tidak berlebihan. Berbuka secukupnya membuat tubuh tetap ringan untuk melanjutkan ibadah Tarawih.
Lebih dari Sekadar Menu
Namun sejatinya,
yang paling dirindukan bukan hanya kurma yang manis atau soto yang hangat. Yang
paling istimewa adalah momen duduk bersama, menunggu adzan, dan saling
mendoakan.
Ramadhan menghadirkan ruang untuk mempererat ikatan keluarga. Meja makan menjadi tempat berbagi cerita, tawa, dan syukur. Dari kurma pertama hingga suapan terakhir, ada cinta yang tersaji.
“Berbuka bukan
sekadar mengisi perut, tetapi mengisi hati dengan syukur dan kebersamaan.”
Semoga setiap hidangan di rumah kita menjadi jalan keberkahan dan penguat silaturahmi. Karena di balik menu sederhana, tersimpan rasa syukur yang luar biasa.
“Challenge Menulis IIDN”
#IIDN
#IIDNRamadanChallenge #Day7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar