Kisah Fatimah binti Abdul Malik
Sejarah Islam
menyimpan banyak kisah perempuan hebat. Namun nama *Fatimah binti Abdul Malik*
memiliki tempat tersendiri. Ia bukan sekadar putri khalifah, bukan pula hanya
istri pemimpin besar. Ia adalah perempuan yang diuji dengan kemewahan lalu
memilih melepaskannya demi Allah.
Fatimah lahir di lingkungan istana Bani Umayyah. Ayahnya, Abdul Malik bin Marwan, adalah khalifah yang kuat dan berpengaruh. Sejak kecil, Fatimah hidup dalam limpahan fasilitas. Pakaian terbaik, perhiasan terindah, dan pelayanan istimewa adalah bagian dari kesehariannya. Ia tumbuh sebagai bangsawan sejati, dengan segala kemegahan dunia di sekelilingnya.
Namun Allah menuliskan jalan hidup yang berbeda baginya.
Nasab Mulia dan Jiwa yang Dibentuk Iman
Fatimah menikah
dengan sepupunya, *Umar bin Abdul Aziz.* Umar adalah perpaduan dua garis
keturunan besar. Dari ayahnya, ia bagian dari keluarga Bani Umayyah. Dari
ibunya, ia tersambung kepada keturunan Umar bin Khattab, khalifah kedua yang
terkenal dengan keadilan dan kezuhudannya.
Ada kisah terkenal tentang nenek moyang Umar bin Abdul Aziz: seorang gadis penjual susu yang menolak mencampur susu dengan air meski tidak ada yang melihat, karena takut kepada Allah. Kejujuran itu membuat Umar bin Khattab menghargainya dan menikahkannya dengan putranya. Dari garis itulah lahir generasi yang menurunkan Umar bin Abdul Aziz. Seakan-akan Allah telah menanam benih keadilan jauh sebelum ia memimpin.
Ketika Umar diangkat menjadi khalifah, ia menangis. Ia sadar akan firman Allah:
“Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” (QS.
An-Nisa: 58)
Baginya, kekuasaan adalah amanah, bukan kemegahan.
Ujian Besar di Dalam Rumah
Keputusan pertama
Umar sebagai khalifah adalah melakukan reformasi total. Ia mengembalikan harta
yang diperoleh secara tidak sah ke baitul mal. Ia menghentikan fasilitas
berlebihan keluarga istana. Ia memangkas gaya hidup mewah. Dan ini menyentuh
langsung kehidupan Fatimah.
Suatu hari, Umar memanggil istrinya. Dengan suara lembut, ia berkata bahwa seluruh perhiasan mahal yang dimiliki Fatimah harus dikembalikan. Jika Fatimah ingin hidup dalam kemewahan, ia tidak akan menahannya. Tetapi jika ia ingin tetap bersamanya, maka kesederhanaan adalah jalannya.
Bayangkan posisi Fatimah: seorang putri khalifah, yang tak pernah kekurangan, kini diminta menyerahkan seluruh perhiasannya. Namun ia memilih Allah.
Tanpa ragu, ia menyerahkan semuanya. Ia tidak sekadar patuh pada suami, tetapi memahami nilai perjuangan itu. Ia sadar bahwa keadilan yang ditegakkan Umar membutuhkan pengorbanan nyata dari keluarga terdekat.
Allah berfirman:
“Kamu sekali-kali
tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan
sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)
Fatimah menginfakkan bukan sisa hartanya, tetapi yang paling ia cintai.
Kehidupan Sehari-hari yang Berubah
Setelah itu,
kehidupan rumah tangga mereka berubah drastis. Rumah khalifah bukan lagi pusat
kemewahan, melainkan simbol tanggung jawab.
Lampu minyak dipisahkan: satu untuk urusan negara, satu untuk urusan pribadi. Jika pembicaraan tentang keluarga berlangsung, Umar mematikan lampu negara dan menyalakan lampu pribadi.
Makanan sederhana menjadi kebiasaan. Roti dan minyak zaitun sering menjadi menu utama. Pakaian mereka biasa saja.
Fatimah tidak mengeluh. Ia tidak membandingkan masa kini dengan masa lalu. Ia justru menjadi penguat bagi suaminya. Ketika Umar kelelahan memikirkan rakyatnya, Fatimah menenangkan. Ketika Umar menangis di malam hari karena takut ada rakyat yang kelaparan, Fatimah menyertainya dalam doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian
adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang
dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fatimah memahami bahwa ia pun pemimpin dalam rumah tangganya.
Rumah Khalifah yang Terbuka untuk Rakyat
Saat Umar memulai
reformasi, bukan hanya sistem pemerintahan yang berubah—tetapi juga pola
hubungan keluarganya dengan rakyat. Ia menghapus sekat berlebihan antara istana
dan masyarakat. Rumah khalifah menjadi lebih sederhana dan lebih terbuka.
Rakyat bisa menyampaikan keluhan tanpa prosedur berbelit. Umar bahkan kerap
menyamar atau berjalan tanpa pengawalan besar untuk mengetahui kondisi
masyarakat secara langsung. Fatimah menyaksikan semua itu.
Sering kali, waktu keluarga harus berbagi dengan urusan rakyat. Umar lebih memilih menyelesaikan keluhan orang miskin daripada menikmati waktu santai. Jika ada laporan tentang kelaparan di suatu wilayah, wajahnya berubah pucat. Ia takut menjadi pemimpin yang lalai.
Pada malam hari, ia kerap berkata, “Bagaimana jika ada rakyatku yang kelaparan sementara aku tidak mengetahuinya?” Fatimah tidak merasa tersaingi oleh rakyat. Ia memahami bahwa kepemimpinan suaminya adalah amanah besar. Ia justru mendukung Umar untuk lebih mengutamakan kepentingan umat.
Dalam banyak kesempatan, rumah mereka menjadi tempat diskusi tentang zakat, keadilan pajak, dan pembebasan orang-orang yang tertindas. Anak-anak mereka tumbuh dengan menyaksikan ayahnya memprioritaskan rakyat dibanding kenyamanan pribadi.
Allah
berfirman:
“Dan mereka
mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga
memerlukan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini seolah hidup dalam keluarga mereka.
Kesederhanaan yang Disaksikan Rakyat
Rakyat terkejut
melihat perubahan gaya hidup keluarga khalifah. Tidak ada pesta megah. Tidak
ada kemewahan berlebihan. Bahkan perhiasan Fatimah telah dikembalikan ke baitul
mal. Sikap ini memberi pesan kuat: bahwa keadilan dimulai dari rumah pemimpin.
Ketika rakyat mengetahui bahwa keluarga khalifah hidup sederhana, kepercayaan tumbuh. Mereka melihat pemimpin yang tidak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya keluarga.
Dikisahkan bahwa kesejahteraan meningkat hingga sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat. Kebijakan distribusi harta yang adil, penghapusan pajak zalim, dan perhatian kepada kaum lemah membuahkan hasil nyata.
Namun di balik kebijakan besar itu, ada pengorbanan sunyi dari Fatimah. Ia tidak menuntut fasilitas sebagai “istri khalifah”. Ia tidak meminta hak istimewa. Ia rela hidup seperti rakyat kebanyakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pemimpin suatu
kaum adalah pelayan bagi mereka.” (HR. Abu Nu’aim)
Umar menerapkan hadis ini dalam kepemimpinannya. Dan Fatimah mendukungnya sepenuh hati.
Pendidikan Anak di Tengah Amanah Besar
Anak-anak mereka
tumbuh dalam suasana kepedulian sosial. Mereka melihat ayahnya menangis karena
takut akan hisab. Mereka melihat ibunya rela meninggalkan dunia demi akhirat.
Umar pernah berkata bahwa jika anak-anaknya shalih, Allah akan menjaga mereka. Ia tidak ingin mewariskan harta yang bisa menjerumuskan mereka.
Fatimah pun menanamkan nilai empati kepada anak-anaknya. Mereka diajarkan bahwa menjadi bagian dari keluarga khalifah bukan berarti lebih tinggi dari rakyat. Justru tanggung jawab mereka lebih besar.
Setelah Kepergian Sang Khalifah
Ketika Umar wafat,
kesedihan menyelimuti rakyat. Mereka kehilangan pemimpin adil. Namun Fatimah
tetap teguh. Ia tidak kembali pada kemewahan lama. Perhiasannya yang dahulu
diserahkan tetap tidak ia ambil kembali. Ia telah memilih jalannya.
Allah berfirman:
“Adapun kehidupan
akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)
Fatimah membuktikan keyakinannya pada ayat ini dengan tindakan, bukan sekadar kata.
Warisan yang Abadi
Kisah Fatimah
binti Abdul Malik bukan hanya tentang kesetiaan kepada suami, tetapi tentang
komitmen terhadap nilai keadilan sosial. Ia mendampingi suami yang
memprioritaskan rakyat di atas kenyamanan keluarga. Ia menerima bahwa waktu,
tenaga, bahkan perhatian suaminya banyak tercurah untuk umat. Namun ia tidak
merasa kehilangan. Ia justru menjadi bagian dari perjuangan itu.
Dari istana menuju rumah sederhana. Dari kemewahan menuju ketenangan iman. Dari kehidupan bangsawan menuju teladan sepanjang zaman.
"Ketika keluarga pemimpin memilih hidup sederhana demi keadilan rakyatnya, di situlah lahir kepercayaan yang menguatkan sebuah peradaban."
#TeladanMuslimah #SejarahIslam #KepemimpinanAdil #PerempuanBeriman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar